Aanisa Rohmi

Management Entrepreneur Days atau biasa disingkat MED adalah acara tahunan yang biasa diadakan oleh mahasiswa jurusan Manajemen FEB Universitas Brawijaya. Jadi di MED ini diselenggarakan dalam rangka untuk mewujudkan jiwa entrepreneur mahasiswa, intinya mahasiswa berjualan apapun yang memiliki nilai jual di lingkungan kampus. Nah ini dia penampakannyaaa......






























 





 
Adikku yang tampan..
Kamu semakin tua, bulu janggutmu semakin lebat, kumis tipismu semakin tebal.
Mungkin sebagai kakak, aku bukan kakak terbaik dan perhatian yang memberikan surprise dengan lilin di atas kue atau balon warna-warni.
Mungkin aku bukan orang pertama yang mengucapkan "Selamat ulang tahun adikku" padahal kenyataannya kita tinggal satu atap.

Tapi sebagai kakak kamu satu-satunya, tentu aku berdoa untuk kamu.
Sebelumnya kakak mau mengucapkan terima kasih.

Terima kasih adikku, setiap hari kamu menyisihkan waktu untuk membelikan makanan, mengingatkanku untuk makan walaupun malas makan sering melandaku, memarahiku ketika makanan tidak habis, hingga menceramahiku tentang susahnya orang lain diluar sana untuk mendapatkan sesuap nasi.

Terima kasih adikku, setiap hari kamu menyisihkan waktu untuk menyiram bunga memberikan kehidupan makhluk hidup lain untuk terus tumbuh dan bernafas. Kadang sedih melihat bunga atau dedaunan yang berubah menjadi warna coklat, sepertinya kita sama-sama lalai dalam memberikan mereka makanan, tapi untungnya ada hujan turun yang meringankan kewajiban kita.

Terima kasih adikku, ketika aku mengeluh sakit raut wajahmu berubah dengan sekejap, seakan ada bencana besara yang datang. Kamu pun mulai memarahiku seakan aku sakit karena kelalaianku sendiri tetapi kamu tetap menawarkanku makanan dan minuman apa yang inginku santap.

Terima kasih adikku, menemaniku saat menonton acara televisi favorit kita berdua Tetangga Masa Gitu dan Pondok Pak Cus. Hahahahahaaaa, menghabiskan waktu sambil tertawa hingga terlihat gigi putih masing-masing karena acara yang kita tonton terlalu lucu.

Terima kasih adikku, ketika aku berpakaian dan menanyakan segala pertanyaan mengenai penampilanku, kamu selalu menjawab dengan berbagai variasi jawaban terlihat bahwa kamu memang jujur. Ketika aku berdandan dan kamu secara spontan memberitahu bahwa lipstik yang ku pakai terlalu tebal, tapi kadang kamu memujiku cantik dan berkata "Bakalan banyak cowok yang naksir sama kamu kak". Hahahahaa kamu tertalu berlebihan Dhani.

Oke sekarang masuk ke sesi serius.

Intinya di usia kamu kedepannya, kamu harus bisa lebih mandiri. Harus fokus sama tujuan kamu apa kuliah jauh-jauh dari orang tua, harus sadar kalau orang tua habisin waktunya mencari uang untuk pendidikan kita yang tinggi, hingga nantinya kita menggantikan mereka dalam memenuhi kebutuhan mereka. Harus bisa pilih pergaulan mana yang kamu ikuti, jadi lelaki yang bisa bertanggungjawab terhadap apa yang kamu putuskan dan telah kamu lakukan. Hidup ini keras, jadi kamu harus lebih keras. Selamat ulang tahun Dhani maaf menceramahimu, untuk doanya hanya aku dan Pencipta yang mengetahuinya :)
Apa yang bisa seorang mahasiswa perbuat apabila kewajibannya sudah susah payah diusahakan untuk dipenuhi tetapi balasannya tidak sepadan dengan yang seharusnya. Nampaknya ini menjadi momok yang umum lagi tidak menyenangkan bagi banyak mahasiswa, khususnya yang seperti saya ini.

Bagaimana tidak, besarnya biaya untuk kuliah yang sudah jauh dari kata murah untuk universitas berlabel PTN, ternyata tidak dapat memberikan kenyamanan dan kelancaran bagi mahasiswa-mahasiswanya. Kita dipaksa untuk tepat waktu membayar biaya UKT (uang kuliah telak) jika tidak kita tidak bisa melanjutkan kuliah, dianggap mangkir. Namun hal yang demikian tidak berlaku bagi akademik dalam menjalankan kewajibannya sekaligus memberikan hak bagi mahasiswa. 

Akademik/pihak universitas, fakultas, maupun bagian yang semestinya bertanggung jawab dalam memberikan nilai hasil studi, mengatur KRS, jadwal kuliah serta ujian dan setumpuk kewajiban mereka yang lainnya. Ternyata tidak tepat waktu merealisasikan apa yang telah mereka janjikan. Padahal sebenarnya jadwal tersebutpun mereka sendiri yang mengaturnya. 

Saya sungguh tidak habis pikir. Mahasiswa dituntut untuk bersabar, sementara mereka tutup mata dan telinga terhadap persoalan mahasiswa. Apa yang sudah diatur tidak dapt diganggu gugat, begitu sikapnya. Seperti ada ketentuan ganda dalam kegiatan yang sebenarnya sarat akan timbal balik seperti ini. 

Tepat waktunya mahasiswa melunasi kewajiban mereka tentu akan memudahkan mereka untuk berkerja, pun sebaliknya. Tepat waktu dan lancarnya mereka memberikan hak untuk mahasiswa tentunya akan memudahkan mereka dan mahasiswa itu sendiri. Tetapi hal itu hanya angan belaka. Beribu alasan datang dan pergi menghiasi persoalan tahunan ini.

Sebuah fenomena umum yang terjadi di dalam fakultas saya, bagaimana kerasnya perjuangan mahasiswa hanya untuk sekadar mendapatkan kelas untuk kuliah, sebuah hak dasar yang sudah barang tentu menjadi kebutuhannya terlambat sedikit resikonya adalah kehabisan kelas, jadwal yang saling bentrok dan sebagainya. Belum lagi jika server down dalam waktu yang tidak jelas kapan selesainya. 

Saya bingung dan sedih, sebuah kampus dan fakultas yang saya cintai dan saya banggakan ternyata menyimpan persoalan menahun seperti ini. Sangat tidak sejalan dengan visi yang diusung dan digadang-gadang akan terwujud dalam beberapa tahun kedepan ini. 

Sebagai mahasiswa yang mencintai almamaternya tentu saja seharusnya segala aib dan masalah yang terjadi diinternal sebisa mungkin ditutupi. Namun apa jadinya jika hal itu terus terjadi secara turun temurun. 

Terkadang saya malu dengan besaran UKT yang ada. Saya salah satu korban kekejaman UKT yang ditentukan dengan tidak berimbang dan serius. UKT yang terlampau tinggi untuk jurusan sekaliber saya, yang mohon maaf jika dilihat dengan kaca mata awam hanya bermodalkan powerpoint serta AC untuk menjalankan kebutuhan kuliahnya. 

Dengan UKT yang selangit sayangnya tidak diimbangi dengan fasilitas serta kelancaran yang memadai. Seperti yang sudah saya paparkan diatas, bagaimana derita mahasiswa hanya untuk mendapatkan kelas saja. Belum lagi berbagai persoalan yang nanti akan timbul selama proses kuliah berlangsung.

Meskipun UKT selangit nyatanya fakultas masih menggunakan server yang gratisan dengan bandwidth teramat rendah dan tidak terpercaya dalam menjalankan kesehariannya. Padahal dari sanalah nasib dan kegiatan mahasiswa digantungkan. 

Bayangkan, berapa ribu mahasiswa yang bergantung nasibnya disana. malu dengan UKT selangit yang disumbangkan oleh ribuan mahasiswa, belum lagi ditambah dengan dana subsidi yang dikucurkan oleh pemerintah. Bisa-bisanya menggunakan server gratisan untuk kebutuhan dasar.

Ada yang beranggapan bahwa fenomena ini adalah sesuatu yang wajar, melihat karena memang jumlah mahasiswanya yang sangat banyak. Tetapi hal itu bagi saya bukanlah sebuah alasan serta pembenaran. Semestinya instansi yang luar biasa besar ini sudah mempertimbangkannya, menerima banyak berarti harus siap  dengan resikonya. Terlebih lagi dengan penerimaan UKT yang sama besarnya pula.

Entah dimana yang salah, apakah karena pemimpinnya atau karena pelaksana tugasnya atau birokasi amburadul dari pangkalnya disana. Saya dan mahasiswa lainnya mungkin tidak peduli dengan hal itu, mahasiswa tidak membutuhkan penjelasan panjang lebar yang hanya berujung pada permintaan untuk maklum dan bersabar. 

Mahasiswa membutuhkan penyelasian yang nyata dan tepat sebagai realisasi agar terpenuhinya HAK mahasiswa.
persoalan ini mungkin adalah sesuatu yang kecil bagi sebagian orang. Tetapi alangkah tidak bijaknya jika membiarkan sesuatu yang kecil ini terjadi secara berulang dan menahun tanpa ada perbaikan sama sekali. Saya tidak mempersoalkan mengenai besar kecilnya masalah, melainkan bagaimana penyelesaian masalah yang kecil tersebut. 

Tulisan ini ada hanya karena keprihatinan saya terhadap persoalan kecil lagi sepele yang terus menerus dibiarkan. Bukan untuk menjelekan salah satu pihak, namun harapannya bisa menjadi bahan renungan dan pelajaran bagi semua. 

-Mahasiswa galau KRS


Adem rasanya kalau pantengin timeline twitter isinya mengenai quote gini. Rasanya ada motivasi atau semangat gitu.

Quote diatas artinya suatu kesalahan itu membuktikan bahwa kamu telah mencoba.

Aku ambil contoh ketika kita belajar mobil. Mungkin awal belajar mengendarai kita salah injak kopling nih, tiba-tiba mobilnya loncat aja. Nah itu kan berarti udah salah banget, tapi itu menandakan kita udah mencoba. Setelah mencoba pasti si pelatih drive kasih tau jangan sampai salah masukin kopling/gas, jangan ini jangan itu bla bla bla.

Mungkin kita memang udah berbuat kesalahan, tapi jangan malu atas kesalahan yang kamu perbuat. Karena itu membuktikan bahwa kamu itu udah mencoba.

Dan kalau kita tau letak kesalahannya kan bisa diperbaiki. Terkadang kebanyakan orang gak mau mencoba, alasannya "ah takut salah" "gak ah, nanti kenapa-kenapa lagi"

Aku ambil contoh lagi. Mama aku ini orangnya bisa dibilang punya hp canggih tapi gak tau cara menggunakannya secara maksimal. Bisa gunain sih tapi cuma buat sms, foto, telpon, lihat instagram. Sedangkan hpnya ini punya manfaat lebih dari itu. Kan sayang banget kalau hpnya gak dimanfaatin.

"Takut rusak" itu alasan mama aku. Ya prinsipnya gak mungkin rusak lah kalo mama cuma otak atik gitu, lihat apa yang harus di setting, download aplikasi yang bermanfaat, dan lain-lain. Percuma buang-buang uang beli hp yang kita sendiri gak tau gimana manfaatin hp ini.

Apa salahnya mama mencoba hal lain buat manfaatin hpnya, toh hpnya juga gak bakal kenapa-kenapa. kecuali kalo hpnya jatuh, nah itu bakal kenapa-kenapa.

Jadi maksudnya jangan pernah takut salah. Kalau kita mencoba kita pasti bakal tau dimana letak kesalahannya. Gak ada yang perlu disesali kalau udah mencoba dan itu salah. Salah itu hal yang sangat sangat lumrah untuk pemula.

Udah segitu aja.
Newer Posts Older Posts Home



About Me

My photo
Aanisa Rohmi
View my complete profile

Archive

  • ▼  2018 (2)
    • ▼  June (2)
      • Yang Terbaik
      • When I Was Child (Photo)
  • ►  2017 (13)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (4)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2016 (21)
    • ►  December (2)
    • ►  November (5)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (13)
    • ►  December (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (6)
  • ►  2013 (9)
    • ►  November (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  March (4)
  • ►  2012 (12)
    • ►  July (4)
    • ►  April (5)
    • ►  January (3)
  • ►  2011 (55)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (3)
    • ►  August (8)
    • ►  July (6)
    • ►  June (6)
    • ►  May (5)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (5)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (27)
    • ►  December (5)
    • ►  November (7)
    • ►  October (4)
    • ►  September (5)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  March (1)
Powered by Blogger.

Copyright © 2009-2020 Aanisa Rohmi. Created By OddThemes