Aanisa Rohmi

Apa yang bisa seorang mahasiswa perbuat apabila kewajibannya sudah susah payah diusahakan untuk dipenuhi tetapi balasannya tidak sepadan dengan yang seharusnya. Nampaknya ini menjadi momok yang umum lagi tidak menyenangkan bagi banyak mahasiswa, khususnya yang seperti saya ini.

Bagaimana tidak, besarnya biaya untuk kuliah yang sudah jauh dari kata murah untuk universitas berlabel PTN, ternyata tidak dapat memberikan kenyamanan dan kelancaran bagi mahasiswa-mahasiswanya. Kita dipaksa untuk tepat waktu membayar biaya UKT (uang kuliah telak) jika tidak kita tidak bisa melanjutkan kuliah, dianggap mangkir. Namun hal yang demikian tidak berlaku bagi akademik dalam menjalankan kewajibannya sekaligus memberikan hak bagi mahasiswa. 

Akademik/pihak universitas, fakultas, maupun bagian yang semestinya bertanggung jawab dalam memberikan nilai hasil studi, mengatur KRS, jadwal kuliah serta ujian dan setumpuk kewajiban mereka yang lainnya. Ternyata tidak tepat waktu merealisasikan apa yang telah mereka janjikan. Padahal sebenarnya jadwal tersebutpun mereka sendiri yang mengaturnya. 

Saya sungguh tidak habis pikir. Mahasiswa dituntut untuk bersabar, sementara mereka tutup mata dan telinga terhadap persoalan mahasiswa. Apa yang sudah diatur tidak dapt diganggu gugat, begitu sikapnya. Seperti ada ketentuan ganda dalam kegiatan yang sebenarnya sarat akan timbal balik seperti ini. 

Tepat waktunya mahasiswa melunasi kewajiban mereka tentu akan memudahkan mereka untuk berkerja, pun sebaliknya. Tepat waktu dan lancarnya mereka memberikan hak untuk mahasiswa tentunya akan memudahkan mereka dan mahasiswa itu sendiri. Tetapi hal itu hanya angan belaka. Beribu alasan datang dan pergi menghiasi persoalan tahunan ini.

Sebuah fenomena umum yang terjadi di dalam fakultas saya, bagaimana kerasnya perjuangan mahasiswa hanya untuk sekadar mendapatkan kelas untuk kuliah, sebuah hak dasar yang sudah barang tentu menjadi kebutuhannya terlambat sedikit resikonya adalah kehabisan kelas, jadwal yang saling bentrok dan sebagainya. Belum lagi jika server down dalam waktu yang tidak jelas kapan selesainya. 

Saya bingung dan sedih, sebuah kampus dan fakultas yang saya cintai dan saya banggakan ternyata menyimpan persoalan menahun seperti ini. Sangat tidak sejalan dengan visi yang diusung dan digadang-gadang akan terwujud dalam beberapa tahun kedepan ini. 

Sebagai mahasiswa yang mencintai almamaternya tentu saja seharusnya segala aib dan masalah yang terjadi diinternal sebisa mungkin ditutupi. Namun apa jadinya jika hal itu terus terjadi secara turun temurun. 

Terkadang saya malu dengan besaran UKT yang ada. Saya salah satu korban kekejaman UKT yang ditentukan dengan tidak berimbang dan serius. UKT yang terlampau tinggi untuk jurusan sekaliber saya, yang mohon maaf jika dilihat dengan kaca mata awam hanya bermodalkan powerpoint serta AC untuk menjalankan kebutuhan kuliahnya. 

Dengan UKT yang selangit sayangnya tidak diimbangi dengan fasilitas serta kelancaran yang memadai. Seperti yang sudah saya paparkan diatas, bagaimana derita mahasiswa hanya untuk mendapatkan kelas saja. Belum lagi berbagai persoalan yang nanti akan timbul selama proses kuliah berlangsung.

Meskipun UKT selangit nyatanya fakultas masih menggunakan server yang gratisan dengan bandwidth teramat rendah dan tidak terpercaya dalam menjalankan kesehariannya. Padahal dari sanalah nasib dan kegiatan mahasiswa digantungkan. 

Bayangkan, berapa ribu mahasiswa yang bergantung nasibnya disana. malu dengan UKT selangit yang disumbangkan oleh ribuan mahasiswa, belum lagi ditambah dengan dana subsidi yang dikucurkan oleh pemerintah. Bisa-bisanya menggunakan server gratisan untuk kebutuhan dasar.

Ada yang beranggapan bahwa fenomena ini adalah sesuatu yang wajar, melihat karena memang jumlah mahasiswanya yang sangat banyak. Tetapi hal itu bagi saya bukanlah sebuah alasan serta pembenaran. Semestinya instansi yang luar biasa besar ini sudah mempertimbangkannya, menerima banyak berarti harus siap  dengan resikonya. Terlebih lagi dengan penerimaan UKT yang sama besarnya pula.

Entah dimana yang salah, apakah karena pemimpinnya atau karena pelaksana tugasnya atau birokasi amburadul dari pangkalnya disana. Saya dan mahasiswa lainnya mungkin tidak peduli dengan hal itu, mahasiswa tidak membutuhkan penjelasan panjang lebar yang hanya berujung pada permintaan untuk maklum dan bersabar. 

Mahasiswa membutuhkan penyelasian yang nyata dan tepat sebagai realisasi agar terpenuhinya HAK mahasiswa.
persoalan ini mungkin adalah sesuatu yang kecil bagi sebagian orang. Tetapi alangkah tidak bijaknya jika membiarkan sesuatu yang kecil ini terjadi secara berulang dan menahun tanpa ada perbaikan sama sekali. Saya tidak mempersoalkan mengenai besar kecilnya masalah, melainkan bagaimana penyelesaian masalah yang kecil tersebut. 

Tulisan ini ada hanya karena keprihatinan saya terhadap persoalan kecil lagi sepele yang terus menerus dibiarkan. Bukan untuk menjelekan salah satu pihak, namun harapannya bisa menjadi bahan renungan dan pelajaran bagi semua. 

-Mahasiswa galau KRS


Adem rasanya kalau pantengin timeline twitter isinya mengenai quote gini. Rasanya ada motivasi atau semangat gitu.

Quote diatas artinya suatu kesalahan itu membuktikan bahwa kamu telah mencoba.

Aku ambil contoh ketika kita belajar mobil. Mungkin awal belajar mengendarai kita salah injak kopling nih, tiba-tiba mobilnya loncat aja. Nah itu kan berarti udah salah banget, tapi itu menandakan kita udah mencoba. Setelah mencoba pasti si pelatih drive kasih tau jangan sampai salah masukin kopling/gas, jangan ini jangan itu bla bla bla.

Mungkin kita memang udah berbuat kesalahan, tapi jangan malu atas kesalahan yang kamu perbuat. Karena itu membuktikan bahwa kamu itu udah mencoba.

Dan kalau kita tau letak kesalahannya kan bisa diperbaiki. Terkadang kebanyakan orang gak mau mencoba, alasannya "ah takut salah" "gak ah, nanti kenapa-kenapa lagi"

Aku ambil contoh lagi. Mama aku ini orangnya bisa dibilang punya hp canggih tapi gak tau cara menggunakannya secara maksimal. Bisa gunain sih tapi cuma buat sms, foto, telpon, lihat instagram. Sedangkan hpnya ini punya manfaat lebih dari itu. Kan sayang banget kalau hpnya gak dimanfaatin.

"Takut rusak" itu alasan mama aku. Ya prinsipnya gak mungkin rusak lah kalo mama cuma otak atik gitu, lihat apa yang harus di setting, download aplikasi yang bermanfaat, dan lain-lain. Percuma buang-buang uang beli hp yang kita sendiri gak tau gimana manfaatin hp ini.

Apa salahnya mama mencoba hal lain buat manfaatin hpnya, toh hpnya juga gak bakal kenapa-kenapa. kecuali kalo hpnya jatuh, nah itu bakal kenapa-kenapa.

Jadi maksudnya jangan pernah takut salah. Kalau kita mencoba kita pasti bakal tau dimana letak kesalahannya. Gak ada yang perlu disesali kalau udah mencoba dan itu salah. Salah itu hal yang sangat sangat lumrah untuk pemula.

Udah segitu aja.






Tahun 2014 mulai pergi.
Banyak. Banyak banget pelajaran yang diberikan oleh 2014.
Banyak. Banyak banget kejadian yang terjadi di 2014.
Dari mulai aku belajar mandiri, belajar hemat, belajar menabung, belajar investasi, belajar berdagang. Semuanya. Aku rasa tahun ini membuat aku lebih dewasa.

By the way, sekarang di Malang aku tinggal sendiri di rumah yang besar. Seharusnya ada tante, sayangnya tante harus balik ke Samarinda karena mengurus saudaranya (Om ku).
Semenjak sendiri di rumah dari awal semester 3 aku benar-benar ngerasain gimana rasanya mengurus rumah.
Ngerasain gimana bersihin rumah segede ini, ngerasain gimana aku harus hemat air dan listrik, ngerasin makan sendiri, nonton sendiri, ketawa sendiri. Tapi bersyukur banget aku berani sendiri di rumah segede ini.

Satu permasalahan yang gak bisa aku selesaikan saat ini. Masak. Aku gak bisa masak, kecuali masak mie atau telur. Sedikit cerita. dulu pada waktu awal-awal semester 3, setiap pagi aku makan nasi goreng yang bumbunya instan ditemenin ikan asin dan malamnya makan nugget dan kentang goreng. Ya maklum lah, yang dulunya dimasakin, yang dulunya tinggal makan, sekarang harus putar balik otak kalo makan. Berhubung aku anak ekonomi, aku selalu mikir uang. Gimana caranya harus minimalkan pengeluaran tanpa mikirin keadaan aku. Pola makan yang serba instan yang dilakukan setiap hari mengakibatkan aku terkena tumor payudara. Kaget. Kaget banget pas dengar dokter ngomong gitu.Ah sudahlah aku gak mau cerita tentang tumor payudara. Nanti malah tambah panjang. Tapi ingat banget pesan papa "jangan pelit untuk diri sendiri". Dari situ aku sadar kalau selama ini aku memang pelit dengan diri aku sendiri. Dari situ juga aku belajar kalau aku gak boleh sakit karena itu benar-benar membuat kerugian yang sangat besar. Terutama untuk orang tua aku.

Sudah banyak dentuman petasan terdengar. Entah ini memang sudah kebiasaan atau memang malas untuk merayakan tahun baru diluar seperti orang lain. Kebiasaan karena selalu merayakan tahun baru di rumah bersama keluarga walaupun papa harus kerja lembur mengurus tutup buku di kantor. Malas karena aku kurang menyukai jalan diluar rumah tanpa tau tujuannya apa lagipula ini sudah larut malam, kalau disini ada mama pasti sudah dilarang jalan malam-malam.

Jadi apa yang aku lakukan di malam tahun baru saat jauh dari keluarga??? Yappp. Aku mengetik ini sambil mendengarkan musik instrument di malam tahun baru. Apa mungkin cuma aku yang melakukan ini saat malam tahun baru?? Hahahaa. Entahlah, hal ini membuatku merasa cukup tenang, bisa mendengar lagu instrument sedalam ini sambil mengulang-ngulang moment dan pelajaran apa yang aku dapat di 2014. Sekarang saatnya menyiapkan tisu, lalu merenung apa yang harus kuperbaiki dan menopang kedua tanganku untuk Dia yang memberiku kehidupan. Jadi, sudahlah sampai sini saja aku bercerita, aku ingin berduaan dengan Dia yang selalu mendengar curahan hatiku dan selalu ada saat aku membutuhkan-Nya.

Terima kasih 2014❤️
Happy new year.

Hay Guys!
Sudah lama gak posting entri baru.
Aku kangen banget sama blog ini, kangen tulisanku yang aku baca berkali-kali.
Kangen kamu yang baca blog ini heheee.

Selama aku jadi mahasiswa banyak yang berbeda.
Terutama pola pikiran aku. Aku gak tau ini efek tambah usia atau karena aku udah jadi mahasiswa.
Well, karena aku kuliah di Malang, jauh dari orang tua, maka udah semestinya semua apapun urusan, masalah, dan apapun yang terjadi harus aku hadapi.
Sebenarnya gak enak loh jauh dari orang tua. Rasanya tuh kalo udah di Malang aku seperti bawa beban yang beratnya tuh gak terkira banget.
Kenapa aku bisa ngomong gitu? Karena orang tua aku kasih kepercayaan yang sangat sangat besar ke aku.
Orang tua aku selalu ingatin tujuan aku ke Malang itu untuk mencari ilmu. Bukan yang lain.
Jadi, otomatis yang tertanam di otak aku itu ya mencari ilmu.

Aku sempat iri sama mereka-mereka yang bisa jalan, bisa menghabiskan uang, bisa kemana aja.
Sedangkan aku, untuk keluarin uang aja aku harus pikir-pikir lagi.
Alhamdulillah keluarga aku termasuk keluarga yang keadaannya jauh lebih dari cukup untuk membayar tagihan, spp dan keperluan sehari-hari.
Bahkan papa aku juga sering nawarin tambahan uang.

Tapi, kembali diri masing-masing aja. Kita sebagai anak yang semuanya dibiayain oleh orang tua gak mau nambah beban orang tua disana.
Rasanya kalau udah dikasih uang bulanan trus kita minta uang tambahan lagi itu rasanya gagal aja.
Gagal untuk bisa jadi dewasa, gagal untuk mengontrol keinginan kita.

Yang paling menegangkan dan menakutkan itu setelah kita ulangan semester.
Dimana saat nilai-nilai kita keluar, bertebaran dimana-dimana.
Aku paling takut saat nilai keluar, aku takut kalau aja ada nilai aku yang jelek banget.
Rasanya tuh gagal banget. Rasanya juga takut.
Aku sebagai anak perantauan punya kewajiban untuk memberikan nilai yang baik buat keluarga aku.
Beban itu semakin berat kalau tau-tau kamu pulang dengan nilai yang jauh banget dari keinginan orang tua kamu.

Malu aja gitu. Biaya kuliah dan biaya bulanan kita, dan lain-lain itu sudah dipenuhi oleh orang tua kita.
Lalu kita sebagai anak cuma kasih nilai yang jelek.
Coba kamu bayangin!! Intinya aku disini cuma mau ingatin aja sebagai anak perantauan kita harus pikir 2 kali untuk melakukan sesuatu, bahkan harus berulang-ulang sih menurut aku.





Kita selalu membayangkan seandainya dunia bisa menjadi tempat yang lebih baik. Tapi, kita sendiri merasa bahwa kita terlalu kecil untuk bisa membuat perubahan. Padahal sebenarnya kalo dipikir-pikir kita punya potensi besar untuk itu lho; cuma yaaa kita gak sadar aja.


Melakukan hal-hal remeh tapi penting di bawah ini udah bisa untuk mengubah dunia menjadi lebih baik kok, setidaknya duniamu dan orang-orang di sekelilingmu.

1. Tersenyum
Sebuah senyuman bisa membuat banyak perbedaan lho. Tersenyum bisa mencairkan suasana yang kaku serta memberikan semangat positif. Bahkan, kita dianjurkan untuk tersenyum sebelum mengangkat telepon, karena senyum gak hanya berlaku saat tatap muka aja.


Setiap orang tentunya ingin merasa bahagia, dan kamu bisa memberikan dan menularkan kebahagiaan itu lewat sebuah gestur sederhana, yaitu tersenyum. Toh senyum itu gratis kan? Bahkan jika kamu lagi merasa muram, tersenyum bisa jadi solusi yang mudah.



2. Mendengarkan
Kita dianugerahi sebuah mulut dan sepasang telinga. Kenapa? Tentunya agar kita lebih banyak mendengarkan dibanding bicara. Sayangnya, kadang kita merasa enggan untuk menjadi pendengar yang baik, jadinya masuk telinga kiri keluar telinga kanan.


Mendengarkan dengan seksama akan membuat orang lain merasa dihargai, dan kamu pun bisa menyerap informasi dengan lebih baik. Tinggalkan sejenak aktivitas dan lamunanmu, fokus pada orang yang mengajakmu bicara. Lalu berikan tanggapan yang sesuai. Ini bisa membuat banyak perbedaan lho.


Kita pasti ingin didengar: kita punya kisah untuk diceritakan dan kita ingin dimengerti. Mendengarkan bisa menjadi jembatan yang baik untuk memahami orang lain.



3. Bersih-bersih
Tempat yang bersih itu enak dilihat, bikin perasaan dan pikiran lebih nyaman. Maka, bikin tempat tinggalmu dan sekelilingmu selalu bersih dan rapi. Melakukan ini menunjukkan kalo kamu peduli sama lingkunganmu dan kamu juga bisa menjadi contoh yang baikbuat orang lain.


Jangan ragu buat membuang sampah yang kamu temukan pada tempat yang seharusnya. Saat temanmu mengadakan acara, gak ada salahnya mengulurkan bantuan, temanmu pasti bakal merasa tertolong banget deh.

4. Membukakan pintu untuk orang lain
Hidup di kota yang apa-apa serba cepat bikin kita jadi serba terburu-buru dan terlalu mementingkan diri sendiri. Gak ada salahnya meluangkan waktu sesaat untuk membukakan atau menahan pintu buat orang lain ketika kebetulan kamu sedang berjalan masuk atau keluar ruangan. Sikap sederhana ini akan membuat orang lain merasa dihargai dan berterima kasih.

5. Mentraktir seseorang
Kalo kamu punya rezeki lebih, gak ada salahnya berbuat kebaikan dengan mentraktir seseorang, baik itu temanmu sendiri atau bahkan orang yang sama sekali gak kamu kenal. Dengan melakukan hal semacam ini, bukan gak mungkin orang-orang yang menerima kebaikanmu akan meneruskannya ke orang lain, menjadikannya seuntai rantai kebaikan yang diulurkan dari satu orang ke orang lainnya.


Dengan sendirinya dunia bakal menjadi lebih baik, kan? Yang harus kamu lakukan hanya memulainya.

6. Mengucapkan “tolong” dan “terima kasih” dengan tulus
Mengucapkan dua kata ajaib ini memang udah sepatutnya dilakukan. Tapi, ternyata kadang kita melewatkannya, terutama ketika kita tengah menerima pelayanan atau memberikan perintah, terutama ketika itu menjadi pekerjaan mereka.


Jangan lupa mengucapkan terima kasih ketika kita sudah dilayani dengan baik oleh kasir, misalnya, meskipun memang kewajiban mereka untuk melayani kita. Atau mengatakan “tolong” kepada OB saat memintanya membuatkan kita kopi. Hal remeh ini bisa membuat mereka merasa dihargai.

7. Memberi ucapan yang personal
Saat hari raya, udah jadi hal yang lumrah untuk memberi ucapan lewat pesan singkat. Tapi, budaya mengirimkan pesan massal berupa template kepada teman dan kolega kita yang kini marak terjadi membuat segala sesuatu terasa hambar.


Coba deh kamu bayangin gimana rasanya dapat broadcast BBM atau SMS ucapan selamat hari raya yang isinya cuma template tanpa menyebutkan nama orang yang dituju: rasanya gak spesial ‘kan? Padahal, kini kita gak perlu jauh-jauh datang ke rumah para relasi kita untuk memberi ucapan satu persatu. Jadi, gak usah pake alasan capek atau repot.


Ngasih ucapan yang mencatumkan nama orang yang dituju akan membuat pesan kamu terasa personal dan spesial, dan tentunya bikin orang yang menerimanya merasa senang karena merasa diingat olehmu.

8. Menyemangati orang lain.
Hal terbaik yang bisa kamu berikan kepada seseorang adalah semangat, karena gak banyak orang yang memperoleh semangat dari orang-orang di sekelilingnya untuk bisa menunjukkan potensi terbaik mereka. Kalo aja semua orang bisa mendapat dorongan yang mereka butuhkan, pasti bakal banyak jenius yang lahir dari diri mereka.


Memberi semangat bisa kamu lakukan mulai dari memberikan pujian, mengatakan “kamu bisa”, atau bahkan memberikan cinta. Dorongan semangat terbaik yang bisa kita berikan adalah dengan mencintai dan menerima seseorang apa adanya di segala situasi.

9. Beri waktu buat dirimu sendiri
Mungkin kedengarannya agak egois, tapi ada suatu saat di mana ketika harusnya istirahat, kamu justru bekerja keras. Padahal, kamu akan lebih produktif kalau kamu mengambil istirahat yang cukup. Berikan dirimu sendiri waktu yang cukup untuk menyeimbangkan fisik dan mentalmu, agar nantinya kamu bisa memberi lebih banyak bagi orang lain.

10. Memberi dan menerima
Kapanpun kamu bisa berbagi, berbagilah. Kebaikanmu hari ini akan dibalas dengan suatu cara, suatu hari. Dan yang kamu beri itu gak harus selalu berupa materi, tapi juga bisa berupa ide, sikap, atau dorongan semangat.


Yang gak kalah penting, kamu juga perlu menerima kebaikan dari orang lain. Dengan menerima, kamu akan merasa dihargai dan dipedulikan. Kamu juga memberi kesempatan bagi seseorang untuk menikmati rasanya memberi atau melakukan sesuatu bagi orang lain.

11. Menjadi dirimu sendiri
Kita seringkali terfokus untuk membentuk diri sendiri menjadi seseorang yang sesuai dengan keinginan orang lain, sehingga kita melupakan siapa diri kita sebenarnya. Padahal, kehadiranmu adalah hadiah, dan kamu telah dilahirkan ke dunia dengan suatu alasan.


Temukan dirimu sendiri: apa yang kamu pikirkan, apa passion-mu, apa yang membuatmu bersemangat. Memberi kesempatan bagimu untuk menjadi diri sendiri berarti memberikan kesempatan yang sama bagi orang-orang di sekelilingmu.


Bayangkan, hidup kita pasti jauh lebih mudah jika masing-masing bisa menjadi dirinya sendiri, alih-alih berusaha menjadi seseorang yang bukan diri kita hanya demi menyenangkan orang lain. Dan semua itu bisa dimulai dari kamu.


Membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik adalah perihal menularkan kebaikan bagi sesama dengan tetap menjadi diri sendiri. Jadi, apa kamu udah siap untuk memulai perubahan ke arah yanglebih baik?
Newer Posts Older Posts Home



About Me

My photo
Aanisa Rohmi
View my complete profile

Archive

  • ▼  2018 (2)
    • ▼  June (2)
      • Yang Terbaik
      • When I Was Child (Photo)
  • ►  2017 (13)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (4)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2016 (21)
    • ►  December (2)
    • ►  November (5)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (13)
    • ►  December (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (6)
  • ►  2013 (9)
    • ►  November (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  March (4)
  • ►  2012 (12)
    • ►  July (4)
    • ►  April (5)
    • ►  January (3)
  • ►  2011 (55)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (3)
    • ►  August (8)
    • ►  July (6)
    • ►  June (6)
    • ►  May (5)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (5)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (27)
    • ►  December (5)
    • ►  November (7)
    • ►  October (4)
    • ►  September (5)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  March (1)
Powered by Blogger.

Copyright © 2009-2020 Aanisa Rohmi. Created By OddThemes