Adem rasanya kalau pantengin timeline twitter isinya mengenai quote gini. Rasanya ada motivasi atau semangat gitu.
Quote diatas artinya suatu kesalahan itu membuktikan bahwa kamu telah mencoba.
Aku ambil contoh ketika kita belajar mobil. Mungkin awal belajar mengendarai kita salah injak kopling nih, tiba-tiba mobilnya loncat aja. Nah itu kan berarti udah salah banget, tapi itu menandakan kita udah mencoba. Setelah mencoba pasti si pelatih drive kasih tau jangan sampai salah masukin kopling/gas, jangan ini jangan itu bla bla bla.
Mungkin kita memang udah berbuat kesalahan, tapi jangan malu atas kesalahan yang kamu perbuat. Karena itu membuktikan bahwa kamu itu udah mencoba.
Dan kalau kita tau letak kesalahannya kan bisa diperbaiki. Terkadang kebanyakan orang gak mau mencoba, alasannya "ah takut salah" "gak ah, nanti kenapa-kenapa lagi"
Aku ambil contoh lagi. Mama aku ini orangnya bisa dibilang punya hp canggih tapi gak tau cara menggunakannya secara maksimal. Bisa gunain sih tapi cuma buat sms, foto, telpon, lihat instagram. Sedangkan hpnya ini punya manfaat lebih dari itu. Kan sayang banget kalau hpnya gak dimanfaatin.
"Takut rusak" itu alasan mama aku. Ya prinsipnya gak mungkin rusak lah kalo mama cuma otak atik gitu, lihat apa yang harus di setting, download aplikasi yang bermanfaat, dan lain-lain. Percuma buang-buang uang beli hp yang kita sendiri gak tau gimana manfaatin hp ini.
Apa salahnya mama mencoba hal lain buat manfaatin hpnya, toh hpnya juga gak bakal kenapa-kenapa. kecuali kalo hpnya jatuh, nah itu bakal kenapa-kenapa.
Jadi maksudnya jangan pernah takut salah. Kalau kita mencoba kita pasti bakal tau dimana letak kesalahannya. Gak ada yang perlu disesali kalau udah mencoba dan itu salah. Salah itu hal yang sangat sangat lumrah untuk pemula.
Udah segitu aja.
Hay Guys!
Sudah lama gak posting entri baru.
Aku kangen banget sama blog ini, kangen tulisanku yang aku baca berkali-kali.
Kangen kamu yang baca blog ini heheee.
Selama aku jadi mahasiswa banyak yang berbeda.
Terutama pola pikiran aku. Aku gak tau ini efek tambah usia atau karena aku udah jadi mahasiswa.
Well, karena aku kuliah di Malang, jauh dari orang tua, maka udah semestinya semua apapun urusan, masalah, dan apapun yang terjadi harus aku hadapi.
Sebenarnya gak enak loh jauh dari orang tua. Rasanya tuh kalo udah di Malang aku seperti bawa beban yang beratnya tuh gak terkira banget.
Kenapa aku bisa ngomong gitu? Karena orang tua aku kasih kepercayaan yang sangat sangat besar ke aku.
Orang tua aku selalu ingatin tujuan aku ke Malang itu untuk mencari ilmu. Bukan yang lain.
Jadi, otomatis yang tertanam di otak aku itu ya mencari ilmu.
Aku sempat iri sama mereka-mereka yang bisa jalan, bisa menghabiskan uang, bisa kemana aja.
Sedangkan aku, untuk keluarin uang aja aku harus pikir-pikir lagi.
Alhamdulillah keluarga aku termasuk keluarga yang keadaannya jauh lebih dari cukup untuk membayar tagihan, spp dan keperluan sehari-hari.
Bahkan papa aku juga sering nawarin tambahan uang.
Tapi, kembali diri masing-masing aja. Kita sebagai anak yang semuanya dibiayain oleh orang tua gak mau nambah beban orang tua disana.
Rasanya kalau udah dikasih uang bulanan trus kita minta uang tambahan lagi itu rasanya gagal aja.
Gagal untuk bisa jadi dewasa, gagal untuk mengontrol keinginan kita.
Yang paling menegangkan dan menakutkan itu setelah kita ulangan semester.
Dimana saat nilai-nilai kita keluar, bertebaran dimana-dimana.
Aku paling takut saat nilai keluar, aku takut kalau aja ada nilai aku yang jelek banget.
Rasanya tuh gagal banget. Rasanya juga takut.
Aku sebagai anak perantauan punya kewajiban untuk memberikan nilai yang baik buat keluarga aku.
Beban itu semakin berat kalau tau-tau kamu pulang dengan nilai yang jauh banget dari keinginan orang tua kamu.
Malu aja gitu. Biaya kuliah dan biaya bulanan kita, dan lain-lain itu sudah dipenuhi oleh orang tua kita.
Lalu kita sebagai anak cuma kasih nilai yang jelek.
Coba kamu bayangin!! Intinya aku disini cuma mau ingatin aja sebagai anak perantauan kita harus pikir 2 kali untuk melakukan sesuatu, bahkan harus berulang-ulang sih menurut aku.
Seorang guru di Australia pernah berkata:
“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”
“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Kerena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya.
Inilah jawabannya:
Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.
Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.
”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”
”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;”
Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.
dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.
Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.
Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.
Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”
Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.
Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.
dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga?
Ah sayang sekali ya.... padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?
Ah sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementrian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.
Ah sayang sekali ya... Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral?
Ah sayang sekali ya... seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini?
Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia. Mari kita ajari generasi muda kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik...