Aanisa Rohmi



Adem rasanya kalau pantengin timeline twitter isinya mengenai quote gini. Rasanya ada motivasi atau semangat gitu.

Quote diatas artinya suatu kesalahan itu membuktikan bahwa kamu telah mencoba.

Aku ambil contoh ketika kita belajar mobil. Mungkin awal belajar mengendarai kita salah injak kopling nih, tiba-tiba mobilnya loncat aja. Nah itu kan berarti udah salah banget, tapi itu menandakan kita udah mencoba. Setelah mencoba pasti si pelatih drive kasih tau jangan sampai salah masukin kopling/gas, jangan ini jangan itu bla bla bla.

Mungkin kita memang udah berbuat kesalahan, tapi jangan malu atas kesalahan yang kamu perbuat. Karena itu membuktikan bahwa kamu itu udah mencoba.

Dan kalau kita tau letak kesalahannya kan bisa diperbaiki. Terkadang kebanyakan orang gak mau mencoba, alasannya "ah takut salah" "gak ah, nanti kenapa-kenapa lagi"

Aku ambil contoh lagi. Mama aku ini orangnya bisa dibilang punya hp canggih tapi gak tau cara menggunakannya secara maksimal. Bisa gunain sih tapi cuma buat sms, foto, telpon, lihat instagram. Sedangkan hpnya ini punya manfaat lebih dari itu. Kan sayang banget kalau hpnya gak dimanfaatin.

"Takut rusak" itu alasan mama aku. Ya prinsipnya gak mungkin rusak lah kalo mama cuma otak atik gitu, lihat apa yang harus di setting, download aplikasi yang bermanfaat, dan lain-lain. Percuma buang-buang uang beli hp yang kita sendiri gak tau gimana manfaatin hp ini.

Apa salahnya mama mencoba hal lain buat manfaatin hpnya, toh hpnya juga gak bakal kenapa-kenapa. kecuali kalo hpnya jatuh, nah itu bakal kenapa-kenapa.

Jadi maksudnya jangan pernah takut salah. Kalau kita mencoba kita pasti bakal tau dimana letak kesalahannya. Gak ada yang perlu disesali kalau udah mencoba dan itu salah. Salah itu hal yang sangat sangat lumrah untuk pemula.

Udah segitu aja.






Tahun 2014 mulai pergi.
Banyak. Banyak banget pelajaran yang diberikan oleh 2014.
Banyak. Banyak banget kejadian yang terjadi di 2014.
Dari mulai aku belajar mandiri, belajar hemat, belajar menabung, belajar investasi, belajar berdagang. Semuanya. Aku rasa tahun ini membuat aku lebih dewasa.

By the way, sekarang di Malang aku tinggal sendiri di rumah yang besar. Seharusnya ada tante, sayangnya tante harus balik ke Samarinda karena mengurus saudaranya (Om ku).
Semenjak sendiri di rumah dari awal semester 3 aku benar-benar ngerasain gimana rasanya mengurus rumah.
Ngerasain gimana bersihin rumah segede ini, ngerasain gimana aku harus hemat air dan listrik, ngerasin makan sendiri, nonton sendiri, ketawa sendiri. Tapi bersyukur banget aku berani sendiri di rumah segede ini.

Satu permasalahan yang gak bisa aku selesaikan saat ini. Masak. Aku gak bisa masak, kecuali masak mie atau telur. Sedikit cerita. dulu pada waktu awal-awal semester 3, setiap pagi aku makan nasi goreng yang bumbunya instan ditemenin ikan asin dan malamnya makan nugget dan kentang goreng. Ya maklum lah, yang dulunya dimasakin, yang dulunya tinggal makan, sekarang harus putar balik otak kalo makan. Berhubung aku anak ekonomi, aku selalu mikir uang. Gimana caranya harus minimalkan pengeluaran tanpa mikirin keadaan aku. Pola makan yang serba instan yang dilakukan setiap hari mengakibatkan aku terkena tumor payudara. Kaget. Kaget banget pas dengar dokter ngomong gitu.Ah sudahlah aku gak mau cerita tentang tumor payudara. Nanti malah tambah panjang. Tapi ingat banget pesan papa "jangan pelit untuk diri sendiri". Dari situ aku sadar kalau selama ini aku memang pelit dengan diri aku sendiri. Dari situ juga aku belajar kalau aku gak boleh sakit karena itu benar-benar membuat kerugian yang sangat besar. Terutama untuk orang tua aku.

Sudah banyak dentuman petasan terdengar. Entah ini memang sudah kebiasaan atau memang malas untuk merayakan tahun baru diluar seperti orang lain. Kebiasaan karena selalu merayakan tahun baru di rumah bersama keluarga walaupun papa harus kerja lembur mengurus tutup buku di kantor. Malas karena aku kurang menyukai jalan diluar rumah tanpa tau tujuannya apa lagipula ini sudah larut malam, kalau disini ada mama pasti sudah dilarang jalan malam-malam.

Jadi apa yang aku lakukan di malam tahun baru saat jauh dari keluarga??? Yappp. Aku mengetik ini sambil mendengarkan musik instrument di malam tahun baru. Apa mungkin cuma aku yang melakukan ini saat malam tahun baru?? Hahahaa. Entahlah, hal ini membuatku merasa cukup tenang, bisa mendengar lagu instrument sedalam ini sambil mengulang-ngulang moment dan pelajaran apa yang aku dapat di 2014. Sekarang saatnya menyiapkan tisu, lalu merenung apa yang harus kuperbaiki dan menopang kedua tanganku untuk Dia yang memberiku kehidupan. Jadi, sudahlah sampai sini saja aku bercerita, aku ingin berduaan dengan Dia yang selalu mendengar curahan hatiku dan selalu ada saat aku membutuhkan-Nya.

Terima kasih 2014❤️
Happy new year.

Hay Guys!
Sudah lama gak posting entri baru.
Aku kangen banget sama blog ini, kangen tulisanku yang aku baca berkali-kali.
Kangen kamu yang baca blog ini heheee.

Selama aku jadi mahasiswa banyak yang berbeda.
Terutama pola pikiran aku. Aku gak tau ini efek tambah usia atau karena aku udah jadi mahasiswa.
Well, karena aku kuliah di Malang, jauh dari orang tua, maka udah semestinya semua apapun urusan, masalah, dan apapun yang terjadi harus aku hadapi.
Sebenarnya gak enak loh jauh dari orang tua. Rasanya tuh kalo udah di Malang aku seperti bawa beban yang beratnya tuh gak terkira banget.
Kenapa aku bisa ngomong gitu? Karena orang tua aku kasih kepercayaan yang sangat sangat besar ke aku.
Orang tua aku selalu ingatin tujuan aku ke Malang itu untuk mencari ilmu. Bukan yang lain.
Jadi, otomatis yang tertanam di otak aku itu ya mencari ilmu.

Aku sempat iri sama mereka-mereka yang bisa jalan, bisa menghabiskan uang, bisa kemana aja.
Sedangkan aku, untuk keluarin uang aja aku harus pikir-pikir lagi.
Alhamdulillah keluarga aku termasuk keluarga yang keadaannya jauh lebih dari cukup untuk membayar tagihan, spp dan keperluan sehari-hari.
Bahkan papa aku juga sering nawarin tambahan uang.

Tapi, kembali diri masing-masing aja. Kita sebagai anak yang semuanya dibiayain oleh orang tua gak mau nambah beban orang tua disana.
Rasanya kalau udah dikasih uang bulanan trus kita minta uang tambahan lagi itu rasanya gagal aja.
Gagal untuk bisa jadi dewasa, gagal untuk mengontrol keinginan kita.

Yang paling menegangkan dan menakutkan itu setelah kita ulangan semester.
Dimana saat nilai-nilai kita keluar, bertebaran dimana-dimana.
Aku paling takut saat nilai keluar, aku takut kalau aja ada nilai aku yang jelek banget.
Rasanya tuh gagal banget. Rasanya juga takut.
Aku sebagai anak perantauan punya kewajiban untuk memberikan nilai yang baik buat keluarga aku.
Beban itu semakin berat kalau tau-tau kamu pulang dengan nilai yang jauh banget dari keinginan orang tua kamu.

Malu aja gitu. Biaya kuliah dan biaya bulanan kita, dan lain-lain itu sudah dipenuhi oleh orang tua kita.
Lalu kita sebagai anak cuma kasih nilai yang jelek.
Coba kamu bayangin!! Intinya aku disini cuma mau ingatin aja sebagai anak perantauan kita harus pikir 2 kali untuk melakukan sesuatu, bahkan harus berulang-ulang sih menurut aku.





Kita selalu membayangkan seandainya dunia bisa menjadi tempat yang lebih baik. Tapi, kita sendiri merasa bahwa kita terlalu kecil untuk bisa membuat perubahan. Padahal sebenarnya kalo dipikir-pikir kita punya potensi besar untuk itu lho; cuma yaaa kita gak sadar aja.


Melakukan hal-hal remeh tapi penting di bawah ini udah bisa untuk mengubah dunia menjadi lebih baik kok, setidaknya duniamu dan orang-orang di sekelilingmu.

1. Tersenyum
Sebuah senyuman bisa membuat banyak perbedaan lho. Tersenyum bisa mencairkan suasana yang kaku serta memberikan semangat positif. Bahkan, kita dianjurkan untuk tersenyum sebelum mengangkat telepon, karena senyum gak hanya berlaku saat tatap muka aja.


Setiap orang tentunya ingin merasa bahagia, dan kamu bisa memberikan dan menularkan kebahagiaan itu lewat sebuah gestur sederhana, yaitu tersenyum. Toh senyum itu gratis kan? Bahkan jika kamu lagi merasa muram, tersenyum bisa jadi solusi yang mudah.



2. Mendengarkan
Kita dianugerahi sebuah mulut dan sepasang telinga. Kenapa? Tentunya agar kita lebih banyak mendengarkan dibanding bicara. Sayangnya, kadang kita merasa enggan untuk menjadi pendengar yang baik, jadinya masuk telinga kiri keluar telinga kanan.


Mendengarkan dengan seksama akan membuat orang lain merasa dihargai, dan kamu pun bisa menyerap informasi dengan lebih baik. Tinggalkan sejenak aktivitas dan lamunanmu, fokus pada orang yang mengajakmu bicara. Lalu berikan tanggapan yang sesuai. Ini bisa membuat banyak perbedaan lho.


Kita pasti ingin didengar: kita punya kisah untuk diceritakan dan kita ingin dimengerti. Mendengarkan bisa menjadi jembatan yang baik untuk memahami orang lain.



3. Bersih-bersih
Tempat yang bersih itu enak dilihat, bikin perasaan dan pikiran lebih nyaman. Maka, bikin tempat tinggalmu dan sekelilingmu selalu bersih dan rapi. Melakukan ini menunjukkan kalo kamu peduli sama lingkunganmu dan kamu juga bisa menjadi contoh yang baikbuat orang lain.


Jangan ragu buat membuang sampah yang kamu temukan pada tempat yang seharusnya. Saat temanmu mengadakan acara, gak ada salahnya mengulurkan bantuan, temanmu pasti bakal merasa tertolong banget deh.

4. Membukakan pintu untuk orang lain
Hidup di kota yang apa-apa serba cepat bikin kita jadi serba terburu-buru dan terlalu mementingkan diri sendiri. Gak ada salahnya meluangkan waktu sesaat untuk membukakan atau menahan pintu buat orang lain ketika kebetulan kamu sedang berjalan masuk atau keluar ruangan. Sikap sederhana ini akan membuat orang lain merasa dihargai dan berterima kasih.

5. Mentraktir seseorang
Kalo kamu punya rezeki lebih, gak ada salahnya berbuat kebaikan dengan mentraktir seseorang, baik itu temanmu sendiri atau bahkan orang yang sama sekali gak kamu kenal. Dengan melakukan hal semacam ini, bukan gak mungkin orang-orang yang menerima kebaikanmu akan meneruskannya ke orang lain, menjadikannya seuntai rantai kebaikan yang diulurkan dari satu orang ke orang lainnya.


Dengan sendirinya dunia bakal menjadi lebih baik, kan? Yang harus kamu lakukan hanya memulainya.

6. Mengucapkan “tolong” dan “terima kasih” dengan tulus
Mengucapkan dua kata ajaib ini memang udah sepatutnya dilakukan. Tapi, ternyata kadang kita melewatkannya, terutama ketika kita tengah menerima pelayanan atau memberikan perintah, terutama ketika itu menjadi pekerjaan mereka.


Jangan lupa mengucapkan terima kasih ketika kita sudah dilayani dengan baik oleh kasir, misalnya, meskipun memang kewajiban mereka untuk melayani kita. Atau mengatakan “tolong” kepada OB saat memintanya membuatkan kita kopi. Hal remeh ini bisa membuat mereka merasa dihargai.

7. Memberi ucapan yang personal
Saat hari raya, udah jadi hal yang lumrah untuk memberi ucapan lewat pesan singkat. Tapi, budaya mengirimkan pesan massal berupa template kepada teman dan kolega kita yang kini marak terjadi membuat segala sesuatu terasa hambar.


Coba deh kamu bayangin gimana rasanya dapat broadcast BBM atau SMS ucapan selamat hari raya yang isinya cuma template tanpa menyebutkan nama orang yang dituju: rasanya gak spesial ‘kan? Padahal, kini kita gak perlu jauh-jauh datang ke rumah para relasi kita untuk memberi ucapan satu persatu. Jadi, gak usah pake alasan capek atau repot.


Ngasih ucapan yang mencatumkan nama orang yang dituju akan membuat pesan kamu terasa personal dan spesial, dan tentunya bikin orang yang menerimanya merasa senang karena merasa diingat olehmu.

8. Menyemangati orang lain.
Hal terbaik yang bisa kamu berikan kepada seseorang adalah semangat, karena gak banyak orang yang memperoleh semangat dari orang-orang di sekelilingnya untuk bisa menunjukkan potensi terbaik mereka. Kalo aja semua orang bisa mendapat dorongan yang mereka butuhkan, pasti bakal banyak jenius yang lahir dari diri mereka.


Memberi semangat bisa kamu lakukan mulai dari memberikan pujian, mengatakan “kamu bisa”, atau bahkan memberikan cinta. Dorongan semangat terbaik yang bisa kita berikan adalah dengan mencintai dan menerima seseorang apa adanya di segala situasi.

9. Beri waktu buat dirimu sendiri
Mungkin kedengarannya agak egois, tapi ada suatu saat di mana ketika harusnya istirahat, kamu justru bekerja keras. Padahal, kamu akan lebih produktif kalau kamu mengambil istirahat yang cukup. Berikan dirimu sendiri waktu yang cukup untuk menyeimbangkan fisik dan mentalmu, agar nantinya kamu bisa memberi lebih banyak bagi orang lain.

10. Memberi dan menerima
Kapanpun kamu bisa berbagi, berbagilah. Kebaikanmu hari ini akan dibalas dengan suatu cara, suatu hari. Dan yang kamu beri itu gak harus selalu berupa materi, tapi juga bisa berupa ide, sikap, atau dorongan semangat.


Yang gak kalah penting, kamu juga perlu menerima kebaikan dari orang lain. Dengan menerima, kamu akan merasa dihargai dan dipedulikan. Kamu juga memberi kesempatan bagi seseorang untuk menikmati rasanya memberi atau melakukan sesuatu bagi orang lain.

11. Menjadi dirimu sendiri
Kita seringkali terfokus untuk membentuk diri sendiri menjadi seseorang yang sesuai dengan keinginan orang lain, sehingga kita melupakan siapa diri kita sebenarnya. Padahal, kehadiranmu adalah hadiah, dan kamu telah dilahirkan ke dunia dengan suatu alasan.


Temukan dirimu sendiri: apa yang kamu pikirkan, apa passion-mu, apa yang membuatmu bersemangat. Memberi kesempatan bagimu untuk menjadi diri sendiri berarti memberikan kesempatan yang sama bagi orang-orang di sekelilingmu.


Bayangkan, hidup kita pasti jauh lebih mudah jika masing-masing bisa menjadi dirinya sendiri, alih-alih berusaha menjadi seseorang yang bukan diri kita hanya demi menyenangkan orang lain. Dan semua itu bisa dimulai dari kamu.


Membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik adalah perihal menularkan kebaikan bagi sesama dengan tetap menjadi diri sendiri. Jadi, apa kamu udah siap untuk memulai perubahan ke arah yanglebih baik?
Seorang guru di Australia pernah berkata:

“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Kerena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya.

Inilah jawabannya:

Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.
Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.
”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”

”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;”

Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.

dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.

Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”
Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.
Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.
dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga?

Ah sayang sekali ya.... padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?

Ah sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementrian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.

Ah sayang sekali ya... Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral?

Ah sayang sekali ya... seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia. Mari kita ajari generasi muda kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik...
Newer Posts Older Posts Home



About Me

My photo
Aanisa Rohmi
View my complete profile

Archive

  • ▼  2018 (2)
    • ▼  June (2)
      • Yang Terbaik
      • When I Was Child (Photo)
  • ►  2017 (13)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (4)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2016 (21)
    • ►  December (2)
    • ►  November (5)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (13)
    • ►  December (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (6)
  • ►  2013 (9)
    • ►  November (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  March (4)
  • ►  2012 (12)
    • ►  July (4)
    • ►  April (5)
    • ►  January (3)
  • ►  2011 (55)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (3)
    • ►  August (8)
    • ►  July (6)
    • ►  June (6)
    • ►  May (5)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (5)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (27)
    • ►  December (5)
    • ►  November (7)
    • ►  October (4)
    • ►  September (5)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  March (1)
Powered by Blogger.

Copyright © 2009-2020 Aanisa Rohmi. Created By OddThemes