Aanisa Rohmi

 
Tuhan itu baik. Tidak pernah lupa membangunkanmu tiap pagi. 
Lalu, kenapa kamu lupa berdoa padanya tiap malam sebelum tidur?


Hidup memang sebuah misteri, kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi kedepan. Ada yang menghadapinya dengan percaya diri namun ada pula yang sudah terlanjur putus asa. Bagi yang pasrah akan nasibnya namun telah berusaha, merupakan tindakan aman untuk tidak kecewa di hari depan. Namun bagi yang pasrah tanpa usaha, duduk manis menunggu keajaiban datang, merupakan sikap pasif yang banyak dimiliki oleh mereka yang tidak memiliki tujuan hidup. Berbeda dengan mereka yang terlalu percaya diri, baik itu yang dilalui dengan usaha maupun yang hanya ongkang-ongkang kaki saja. Mereka sangat percaya bahwa hari depanya pasti membahagiakan.  Golongan ini tidak pernah takut akan kekecewaan bahkan siap mati konyol.

Gerakan “cuek bebek” dari mereka yang percaya diri, mungkin tidak asing lagi di lingkungan kita. Gaya mereka nyentrik, baik dalam berbicara maupun bertindak. Tidak pernah kenal rasa malu dan selalu blak-blakan. Terkadang apabila kita berpergian bersama mereka, hadir dalam suatu acara resmi atau di tengah keramaian. Kita dibuat salah tingkah dan merasa malu mewakili mereka yang tidak punya rasa malu ini.


 Mereka yang memiliki sikap cuek bebek, kelihatanya sangat santai menjalani hidup mereka. Namun apakah benar mereka tidak memiliki beban hidup atau masalah ? Tentu saja tidak. Semua manusia pasti memiliki beban hidup maupun masalah. Namun cara menyikapinya saja yang berbeda. Bagi golongan “cuek bebek” ini, beban dan masalah hidup bukanlah sesuatu yang menakutkan untuk dihadapi. Mereka lebih siap untuk menerima semua resiko.

Walaupun kelihantanya menarik untuk ditiru, namun perlu diketahui bahwa tidak semua orang dengan sifat seperti ini perduli terhadap orang lain atau lingkungan mereka. Terkadang, mereka tidak memperdulikan perasaan orang lain atau etika umum yang berlaku. Saking cueknya mereka lebih mementingkan dirinya sendiri. Mereka dapat dikategorikan sebagai orang yang memiliki Antisocial Personality Disorder atau gangguan kepribadian anti sosial.

Terlepas dari baik buruknya sifat seseorang, kita hidup sebagai mahluk sosial yang saling membutuhkan. Kita tidak dapat hidup sendiri. Hidup ini memang penuh warna dengan berbagai perilaku manusia. Kita tidak dapat menghindari mereka yang berbeda, kita hidup dengan mereka. Namun kita tidak perlu menjadi seperti mereka. Boleh ambil yang baik untuk dicontohi, yang penting tidak merugikan orang lain.

Bagi yang berani tampil beda, berjuang membunuh rasa malu, berani hadapi resiko. Cuek bebek ? Go Ahead !
Dalam diam aku teringat semua tentang sejuta kenangan indah antara aku dan kamu yang membuat aku semakin tidak mengerti .
Kamu diam kepada ku dan kamu tak peduli lagi akan hadirnya aku .
Aku mencoba untuk bertahan dengan semua ini .
Namun apakah kamu mau mengerti dengan semua pengorbanan ku ?
Dalam diam aku berdoa semoga kamu yang hilang dapat kembali lagi .
Aku merindukan sejuta senyuman dan tawa mu .
Aku merindukan semua kekonyolan kamu .
Aku merindukan semua yang ada di kamu dulu .


Aku mencoba yakin bahwa suatu hari nanti, semua akan jauh lebih baik untuk setiap cerita dan untuk setiap bait kata yang akan menghubungkan kembali kata "SAHABAT" ini 
Dan semoga besok lebih baik :')

 

kenapa kamu takut kehilangan seseorang yang tak pernah takut kehilangan kamu?

“Bagaimana aku bisa menemukan orang sepertimu lagi?”
Hujan selalu menyimpan tanda tanya. Kadang, hujan bisa juga menjadi jawaban. Dia membisu, datang malu-malu, tanpa isyarat dan kata, tiba-tiba dia mengguyur saja sesukanya, seenak hatinya. Seringkali hujan disalahartikan sebagai pembawa duka, sebagai sebab seseorang mengingat kenangannya, sebagai terdakwa yang menyebabkan seseorang takut akan takdirnya. Hujan buatku adalah penenang dalam kerinduan, pembawa air mata, dan pengingat rasa kehilangan. Selalu saja, sesuatu yang harus seseorang lupakan adalah sesuatu yang justru jauh tersimpan begitu dalam, kenangan.
***
Seorang pria, sederhana saja. Senyumnya menyimpan banyak tanda tanya, tatapannya mengganggu laju kerja otak, dan gerak-geriknya memaksaku agar tidak melewati setiap inci perpindahannya.
Lalu, semua terjadi begitu saja. Saat sapa lembutnya menjaring nyata menyentuh gendang telinga, saat percakapan kecil yang tercipta berubah menjadi deretan narasi nyata, aku dan dia, mengalir, begitu saja, seperti curah lembut hujan yang jatuh ke permukaan. Sederhana sekali, cinta memang selalu menuntut kesederhanaan.
***
Dia mengajariku banyak hal. Cara menari dalam hujan, cara tertawa dalam kesedihan, cara menghargai perbedaan, dan cara bermimpi walau dalam kemustahilan.
Seringkali aku menatapnya dalam-dalam, menyelami sejuk matanya, tercebur dalam hatinya, lalu terpeleset dalam aliran darahnya. Aku sangat ingin menjadi bagian dalam setiap detak jantungnya, aku ingin ikut berhembus saat helaan nafasnya. Tapi, apa semua ingin dan harapku akan menyentuh kenyataan?Inilah yang disebut mimpi, selalu terlalu tinggi.
Tahu-tahu, sosok dia menjadi sangat penting dalam setiap bangun pagi hingga tidur malamku. Sedetik, semenit, sejam, seharian, hanya dia saja yang begitu rajin menghampiri otakku. Aku ragu kalau dia tak punya kerjaan lain selain mengganggu pikiran dan imajinasiku.
Ah, kala itu, cinta tak lagi menjelma menjadi sesuatu yang sederhana, berangsur-angsur tingkatannya berbeda, hingga ia menjelma menjadi dua kata, luar biasa. Perasaan itu tak lagi sekedar teman biasa, tapi dia berevolusi menjadi lebih dari teman biasa.
***
Aha! Hujan ternyata masih jadi peran antagonis, dia kembali mengingatkanku padamu! Kamu yang dua tahun ini meninggalkanku tanpa pamit, tanpa ucapan selamat tinggal, tanpa isyarat dan pengungkapan.
Ah… berdosakah aku kalau masih saja memikirkanku? Dua tahun lalu, hanya kau saja yang mengajariku menghargai rintik hujan, menghargai deras rindunya, menghargai butir-butir kenangan halusnya.
Hujan kali ini, di sepotong sore yang dingin, benar-benar mengingatkanku pada rasa kehilangan, tentu saja rasa yang begitu dalam. Hilang?Saat aku berniat untuk mencari, pasti aku akan menemukan. Tapi, bagaimana aku bisa mencari orang sepertimu? Dimana aku bisa menemukan seseorang yang mau berjanji untuk tidak meninggalkanku?
Sayang. Ah! Sayang? Panggilan yang tak pernah terucap sekalipun dari bibirmu. Hujan kali ini memang deras sekali, aku tak membayangkan kamu yang terbaring lemah disana, apa kau kedinginan? Oh ya, sudah sebulan aku tidak mengunjungimu ya? Apa kamu merindukanku sedalam aku merindukanmu? Tidak usah dijawab! Aku tidak ingin mendengar jawaban dingin itu! Begini saja, besok aku akan mengunjungimu, membersihkan rumput-rumput liar yang mencoba menjamah nisanmu. Jangan menolak! Aku punya alasan sederhana untuk menjelaskan pemaksaanku. Aku hanya rindu. Itu saja. Sederhana. Rindu memang selalu sederhana kan?
Newer Posts Older Posts Home



About Me

My photo
Aanisa Rohmi
View my complete profile

Archive

  • ▼  2018 (2)
    • ▼  June (2)
      • Yang Terbaik
      • When I Was Child (Photo)
  • ►  2017 (13)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (4)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2016 (21)
    • ►  December (2)
    • ►  November (5)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (13)
    • ►  December (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (6)
  • ►  2013 (9)
    • ►  November (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  March (4)
  • ►  2012 (12)
    • ►  July (4)
    • ►  April (5)
    • ►  January (3)
  • ►  2011 (55)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (3)
    • ►  August (8)
    • ►  July (6)
    • ►  June (6)
    • ►  May (5)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (5)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (27)
    • ►  December (5)
    • ►  November (7)
    • ►  October (4)
    • ►  September (5)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  March (1)
Powered by Blogger.

Copyright © 2009-2020 Aanisa Rohmi. Created By OddThemes