Aanisa Rohmi

Pernah bersamamu adalah suatu kebahagiaan :)
tapi melupakanmu seperti aku TERLAHIR KEMBALI !!! 


Ya Tuhan, aku tidak berani terpejam dalam tidur. 
Aku takut memimpikannya lebih dalam.
Tidak bisa aku katakan apa yang kurasa sekarang.
Aku tidak ingin melukainya.
Tidak ingin mencoreng kisah yang telah kami lalui bersama. 
Dia terlalu Indah untuk kulepaskan.
Yang bisa aku lakukan saat ini hanya berjalan ikhlas dalam takdir yang Kau gariskan di tanganku.
 
 
Tuhan...
Aku tahu aku tidak pantas mendapatkan dia,
aku tidak berhak mengemis cintanya,
aku tidak boleh memaksakan perasaanku padanya,
aku tidak boleh menyayanginya sampai pada titik cinta,
benar kan itu, Tuhan?
Hhh, tapi aku berhak memohon petunjuk yang terbaik dariMu.
Dia, atau masih ada perjalanan lainnya...
Aku tidak bisa memaksakan
apa yang tidak digariskan Tuhan padaku.
Kalau itu bukan Rezeki yang kuinginkan, berarti ada jalan lain yang lebih baik lagi untuk kulalui.
Kalau dia bukan jodoh yang kuharapkan, berarti ada lelaki lain yang lebih baik untuk kebahagiaanku.
Itu saja.
 
Tuhan adalah pemilik Takdir manusia dan itu tidak bisa diberontakkan.
Lindungilah dia dalam kasihMu, jangan biarkan keindahan yang kuresapi dalam dirinya hilang.
Hampir 2 tahun, mungkin kalo diterusin bulan Desember nanti udah 2 tahun.
Ternyata, aku benar-benar jatuh cinta selama ini walaupun banyak kepahitan.
Aku menyukai dia ketika malam itu, malam di saat bulan bersinar terang, kejadian tidak disengaja aku melihat matanya di bawah sinar bulan. Aku senang memandang matanya yang teduh, aku senang mencari-cari punggungnya saat kami berjauhan, tapi itu kejadian dulu sewaktu SMA, sewaktu kami selalu berjumpa dan bertatap muka. Waktu pun berjalan cepat, sangat cepat saat sudah mendekati waktu kelulusan. Mau tidak mau, siap tidak siap kami harus melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, dan ternyata benar... kami dijauhkan oleh jarak. Cobaan yang berat untuk hubungan kami. Sangat berat....
Dan sekarang saat berjauhan aku baru sadar, yang membuat aku semangat sekolah setiap hari adalah dia, ternyata ada manfaatnya juga punya pacar 1 kelas. Hehe... Aku baru sadar itu, karena sekarang untuk pergi ke kampus aja rasanya agak berat, karena dia gak ada disana, karena dia gak menyambutku (lagi) di depan pintu kelas, karena dia gak ada saat aku sendirian, dan karena gak ada alasan lagi untuk aku semangat ke kampus.
Dan benar, LDR itu cobaan yang berat dan sekaligus alasan yang logis untuk mengakhiri hubungan kami. Dia berkata "Aku gak bisa LDR, aku pengen sendiri".Seketika aku terdiam. Hubungan yang aku harap akan bertahan lama dari yang aku perkirakan putus di tengah jalan.
Komunikasi pun semakin jarang, kebiasaan yang dulu sudah gak ada. Aku menunggu kabar dari dia pun seakan hal yang sia-sia. Aku kurang tau ke depannya bagaimana, tapi aku berharap kami berdua baik-baik saja walaupun yang aku tau, aku gak akan baik tanpa dia tapi semoga dengan bantuan waktu keadaanku akan selalu baik.
Terkadang aku merindukan saat-saat kami masih bersama, dan aku bertanya apakah dia juga merasakan hal yang sama. Iya, sebagai gantinya aku akan menulis untuk dia sampai aku melupakannya.
Apabila saatnya itu tiba, saat aku sudah melupakan dia, aku akan berhenti menulis tentang dia. Terima kasih Adms :)


Ada sesuatu yang tidak pernah kamu lihat dalam diriku, rasa sakitku, doa-doaku, tangisanku, harapanku dan ketulusanku
"Besok kalau sudah gede, mau jadi apa?”
“Mau jadi dokter,”
Sewaktu saku kecil, jawaban “mau jadi dokter” ibarat jargon yang otomatis keluar apabila ditanya tentang cita-cita. Padahal, pas itu aku sama sekali awam tentang profesi berjuluk “jadi dokter” itu. 

Walhasil, imej dokter dan pinter pun terpatri kuat di benak saya. Di dalam benakku jadi dokter adalah puncak pencapaian prestasi. Walaupun, pada dasarnya, orang tua ku gak memaksakan untuk jadi dokter, tapi masuk farmasi, waah ..
Om ku juga  kena sindrom “mabuk dokter”. Ia berjanji akan membiayai kuliah ku sampai tuntas kalau aku bisa masuk Kedokteran. Awalnya, kami menganggap ini adalah sebuah berita gembira. Namun, seiring perjalanan waktu, aku mulai berpikir, apakah aku akan menjadi penawar “mabuk dokter” buat keluarga aku?

Aku masih terus menimbang-nimbang. Tahun pertama di SMA aku malah jadi gojag-gajeg. Apa yang harus aku pilih? Gak mungkin kan menunda pilihan. Semasa SD dulu, sah-sah saja aku ingin jadi arsitek, astronot, bahkan juragan klepon sekalipun. Namun kini, tidak bisa semudah itu menentukan langkah. Berbekal kesuksesan memasuki almamater bergengsi seperti ini, aku harus bisa bijak. Ini masalah hidup.

Bukan hal yang perlu ditutup-tutupi lagi, masyarakat kita memang terkondisikan menganggap IPS adalah wadah bagi siswa-siswa “afkiran” alias "buangan". Kebanyakan dari kita (nggak yang muda, nggak yang tuwo, nggak yang modern, nggak yang kuno) meyakini bahwa program ilmu sosial hanya untuk anak-anak yang harus ngeden ngentut sekadar buat naik kelas. Di kelas sepuluh dulu, aku sering mendengar,

“Aduh, gimana niiih??? Nanti kalau aku masuk IPS, gimana?”
“Sob, nanti semesteran bantuin yak. Biar masuk IPA, men,”

Aku pun menyimpulkan, kalau begitu pemilihan jurusan hanya semata prestise. Masuk IPA hanya untuk gaya-gaya, tidak peduli endingnya teraniaya. Sementara, IPS dipandang sebagai ajang leha-leha, hura-hura dan main-main saja.
Ilmu di dunia ini ‘kan banyak. Ada ilmu agama, ada ilmu alam, ilmu sosial, ilmu ketrampilan, bahkan nyantet pun ada ilmunya. Kemudian, dari ilmu-ilmu tersebut, kita tinggal memilih ilmu mana yang akan ditekuni. Pokoknya minat, bakat, niat, tekad.

Pertama, kita harus menemukan bidang yang membuat kita tertarik. Misalnya seni, matematika, bahasa atau olah raga. Selanjutnya, kita harus sadar diri dengan bakat yang kita miliki. Mampukah kita menuruti minat kita? Kalau nilai Kimia kita bisa untuk nyanyi alias cuma do re mi fa sekuat apa pun mencoba, ya jangan maksa. Itu tandanya, Kimia bukan bakat kita. Cari bidang yang mana kita bisa total optimal di dalamnya. 

Elemen terpenting dari suatu ikhtiar adalah niat. Bila kita bersungguh-sungguh dalam berusaha, InsyaALLAH, akan diberi keringanan dan keriangan. Tekad juga penting untuk menjaga kestabilan dan kontinuitas suatu proses. Item terakhir yang harus kita kantongi adalah ragad. Ragad bila diterjemahkan secara harfiah adalah biaya atau uang, tetapi sesungguhnya ragad itu luas. Ragad juga bisa berarti restu, support, fasilitas juga doa. Umumnya ragad itu datangnya dari orang tua. Kalau semua sudah dicapai, perkara memilih jurusan sudah bukan persoalan.

Menginjak tahun ini aku pun mantap dengan pilihan, program IPS. Tentu saja, setelah menjalankan 5 prinsip yang sudah dibahas tadi. Biarlah teman-teman yang lain memilih IPA, itu ‘kan pilihan mereka. Aku punya pilihan sendiri, aku punya nasib sendiri, aku punya hidup saya sendiri. Toh, dengan memilih IPS, peluangku untuk bergaul, berorganisasi, belajar dan berkarya tidak tertutup. Apa yang dijalani berdasar yang diingini. Jadi, tidak ada proses buang binuang, paksa memaksa, tundung menundung, singkang sinengkang.
Apa yang kita pilih adalah sebagian dari tahapan membangun masa depan. Ada konsep yang ingin kita realisasikan. Jadi, memilih program itu jangan disamakan petak umpet. Masuk IPS karena tidak ingin bertemu Fisika, masuk IPA karena tidak suka Geografi. Apalagi, masuk IPA/IPS karena ikut-ikutan. Masuk IPS atau IPA tanggung jawabnya sama saja. Prestise-nya juga sama saja. Tidak ada yang sekadar santai-santai atau keren-keren. Kalau mau santai-santai, pulang saja, angon bebek.

Kesuksesan tidak bisa diparameterkan dengan variabel bidang tertentu. Gelar akademik tinggi bukan monopoli insan eksak belaka. Jangan dikira, kalau mau jadi profesor harus ahli biologi, profesor ekonomi juga banyak. Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, justru pelajar-pelajar program ilmu alam banyak yang menyeberang ke jurusan ilmu sosial. Dan dapat dibayangkan betapa riweuhnya mengejar IPC yang waktu persiapannya paling lama hanya sepekan itu.
Jangan biarkan prasangka membuat kita terpenjara. Jangan menyiksa diri sendiri dengan sesuatu yang tidak kita perlukan. Bila ada potensi, pilihan bukan sekadar spekulasi. Jangan sampai salah memilih. Bila memang merasa cocok dan mantap di IPA, ya jangan ragu memilih, begitu pun dengan IPS. Semua punya jalur sukses sendiri-sendiri.
Hujan..
sampaikan rindu ini untuknya..
hati ini telah luluh dengan derasmu..
hujan.. bawa kesedihan ini hanyut bersamamu..
Rindu ini telah terlarang..
Cinta ini terpaksa harus terpenggal..

Bermusim di balikmu seakan hanya sebuah kekosongan,..
taukah engkau Hujan.. sekarang aku tau kebenaran..
aku mengerti sikap yang mungkin tak sampai terungkapkan..
masalah ini Dari Tuhan, penciptamu hujan..
apakah aku masih pantas untuk mempertanyakan..


Andai-Andai itu masih saja menggaung di telingaku..
Ingin menangis aku tak mampu..
tertawapun tak mungkin bagiku..
Cinta itu.. hanyutlah bersamamu..
Bersama Hujan di tengah rindu..
Untukmu yang ingin kulupakan..
Hujan ini akan menjadi bagian dari kesempurnaan..

di bawah hujan..
akan kubuang segala kerinduan..
yang kini haram untuk kukatakan..
Newer Posts Older Posts Home



About Me

My photo
Aanisa Rohmi
View my complete profile

Archive

  • ▼  2018 (2)
    • ▼  June (2)
      • Yang Terbaik
      • When I Was Child (Photo)
  • ►  2017 (13)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (4)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2016 (21)
    • ►  December (2)
    • ►  November (5)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (13)
    • ►  December (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (6)
  • ►  2013 (9)
    • ►  November (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  March (4)
  • ►  2012 (12)
    • ►  July (4)
    • ►  April (5)
    • ►  January (3)
  • ►  2011 (55)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (3)
    • ►  August (8)
    • ►  July (6)
    • ►  June (6)
    • ►  May (5)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (5)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (27)
    • ►  December (5)
    • ►  November (7)
    • ►  October (4)
    • ►  September (5)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  March (1)
Powered by Blogger.

Copyright © 2009-2020 Aanisa Rohmi. Created By OddThemes