Aanisa Rohmi


Aku ingin memelukmu
Walau rengkuhan jarak itu tak pernah mengizinkan kita bertemu

Aku ingin memelukmu
Walau jemari kita belum saling menggenggam sampai detik ini

Aku ingin memelukmu
Walau kita belum saling tahu dan bertemu

Aku ingin memelukmu
Walau tinggi badanmu jauh diatasku

Aku ingin memelukmu
Saat kamu kelelahan menjalani riuhnya aktivitas
Saat kamu rapuh dan menangis
Saat kamu merasa bahwa dunia terlalu keras untuk kau jalani sendiri
Saat kamu mengira tak seorangpun yang peduli pada perasaanmu

Aku ingin memelukmu
Saat pertama kali aku membuka mata dari tidur lelapku
Saat hanya kamu yang kulihat dibangun pagi hariku

Aku ingin memelukmu
Di bawah hangatnya sinar mentari pagi
Di bawah teriknya surya yang meradang garang
Di bawah redupnya matahari kala senja
Di bawah sinar rembulan dengan hiasan bintang dilangitnya

Aku ingin memelukmu
Saat angin dengan nakalnya menggelitikmu dan meniup lembut rambutmu

Aku ingin memelukmu
Saat rindu mengganggu laju kerja otak dan hatimu

Aku ingin memelukmu
Saat langit sedang menenun benang-benang hujan
Lalu kita saling berpeluk dibawah deras rindunya
Hanya berpayung rambut basah dengan balutan senyum bahagia
Sungguh, aku mencintaimu

Aku ingin memelukmu, sampai Tuhan memeluk kita :)


Orang yang aku sayang bertanya kepadaku "Apa sebabnya aku mencintainya?". Aku hanya menjawab "Aku tidak tau apa sebabnya aku mencintaimu . Karena yang ada dalam pikiran ku saat itu gak ada satupun pada diri kamu yang membuatku mencintaimu. 



Alasan kenapa aku menjawab itu karena :

*jika aku bilang aku mencintai kamu karena kebaikanmu.
Apakah kamu mau selalu tersenyum tiada henti ?


*jika aku bilang aku mencintai kamu karna kebaikan mu.
Apakah kamu mau selalu bersikap baik, dan gak pernah menampakkan wajah kesalmu kepadaku ?


*Dan jika aku bilang aku mencintaimu karena kegagahanmu.
Apakah kamu mau selalu menjaga dan merawat wajahmu demi aku, dan apakah aku boleh tidak mencintaimu lagi ketika kegagahanmu memudar ?


Kamu pasti gak mau itu semua terjadi. Oleh karena itu aku gak pengen mencintaimu karena suatu sebab yang ada pada dirimu. Karena aku gak pengen rasa sayangku memudar. 

Aku hanya ingin mencintai kamu Sekarang, Esok, dan Selamanya. Tetap begitu tak berubah sedikitpun.






aku tak ingin sesuatu yg sempurna
aku hanya ingin sesuatu yg nyata
sesuatu di antara kita, 
sesuatu yg bisa kita berdua rasa !!
Semakin ku ingkari, semakin ku mengerti
Hidup ini tak lengkap tanpamu
Aku mengaku bisa tapi hati tak bisa

Sesungguhnya ku berpura-pura
Relakan kau pilih cinta yang kau mau
Sesungguhnya ku tak pernah rela

Karena ku yang bisa membuat hatimu utuh
Sakit yang ku rasa bukan karena dia
Tapi karena kau pilih cinta yang salah
Aku mengaku bisa tapi hati tak bisa

Sesungguhnya ku berpura-pura
Relakan kau pilih cinta yang kau mau
Sesungguhnya ku tak pernah rela

Karena ku yang bisa membuat hatimu utuh
Ku akui sesungguhnya aku berpura-pura
Relakan kau pilih cinta yang kau mau

Dan aku tak bisa
Tak bisa ku biarkan kau tersiksa

Disisihkan cinta bertahta …
Ku katakan padamu tempatmu di hati
Cintaku membuatmu utuh

Sesungguhnya ku tak pernah rela
Karena ku yang bisa, karena hanya ku yang bisa
Membuat hatimu utuh
udah berakhir semuanya, gada yg menang gada yg kalah . posisi aku serba salah . sewaktu aku pulang sekolah, aku membuka jejaring sosial, seperti biasa aku melihat profilnya, "gada perubahan dr profilnya" sambil tersenyum . tapi perasaan ku gak enak, pada waktu itu juga aku melihat sesuatu yang benar2 gak aku duga, aku lihat status, yang bener buat aku tercengang, susah untuk ngomong, aku yang setiap hari melihat profil dia, menunggu sms dia, deg2an pas dia mau nelpon ternyata dia mencintai cewek lain . sakit, sakit banget, saat itu juga, aku masuk ke kamar, aku nangis sepuasnya, pikiran aku udah kacau banget .

aku yang mengira semuanya baik2 aja ternyata itu bkn yg ku harapin, pdhl kemarinnya, dia nyanyi di telpon untuk aku, dia nenangin aku pas aku tau betapa kangennya sama kedua orang tuaku . dari situ juga aku udah ga bisa percaya sama dia . "udah hancur yank, hancur semuanya, 1 tahun itu udah ga berarti apa2 . km knp kyk gini sama aku ? aku kurang apa sama kamu yank !! KURANG APA ??"

ya tuhan, aku cuma pengen dia balik ke masa lalu dia . dia baikin semuanya sama mantannya . dan bahagia di acara sakralnya bersama wanita nya . wanita yg dia cintai . tuhan, hapus memori ku dr otaknya, jgn pertemukan aku dgn dia . dan tepat di acara sakralnya, rencanakan lah aku untuk datang, walaupun tanpa undangan, aku tersenyum sambil berkata "makasih tuhan kau jodohkan dia dgn wanita yg dia inginkan" dan saat itu juga nyawa ku di cabut oleh malaikat . cuma engkau yg tau, bagaimana rasa sakit ku saat itu . kau pencipta yg agung, kembalikan aku di sisimu . AMIN .
Oke, hoho . Bingung mau ngepost apaan, oya, aku kan ngefans nih Bang Raditya Dika, hahaw, bukunya lucu-lucu banget sumpah . Nah kemarin-kemarin aku blog walking nih, dapat tips dari Bang Radit tentang ngedit tulisan, berhubung saya bukan tipe orang yang suka basa-basi, langsung aja ya -__-
















ini fotoya Bang Radith tampak belakang agak ke samping (-__-'')


1. Kasih jarak dulu
Sebelum mengedit tulisan kamu, simpen dulu tulisan tersebut minimal satu minggu. Begitu kamu selesai menulis draft 1, jalan-jalan dulu, lupakan tentang naskah kamu. Baru, setelah seminggu, kembali ke naskah kamu. Dengan memberikan waktu/jarak seperti ini, pasti mata kamu dalam membaca naskah kamu akan lebih fresh. Mata kamu akan menjadi mata seorang pembaca yang bisa melihat kesalahan-kesalahan yang mungkin tidak terlihat sewaktu sedang menulis dulu.

2. Lebih padat lagi!
Bagi gue, mengedit lebih berarti memotong, atau merampingkan. Gue akan lihat kalimat-kalimat yang bisa dibuat lebih “padet”. Gue akan coba menggunakan kata yang lebih sedikit untuk tujuan yang sama. Misalnya, di naskah ada tulisan: “Gue sama sekali enggak tahu apa gue harus pergi ke sana atau tidak.” Kalimat ini akan gue buat lebih padet dengan menulisnya seperti ini aja: “Gue bingung ke sana apa enggak.” Kalimat dengan jumlah kata yang sedikit seperti ini membuat tulisan kita tidak terasa “sesak” dan “ramai”.

3. Kurangi kalimat pasif
Gue pasti sebisa mungkin menggunakan kalimat aktif. Setiap kali gue nemu kalimat pasif, pasti gue ubah menjadi aktif. Seperti misalnya: “Ketimun itu diambil Edgar” akan gue ganti menjadi “Edgar mengambil ketimun”. Penulisan kalimat dalam bentuk aktif akan membuat pembaca bisa membayangkan kalimat tersebut dengan lebih visual. Kalimat aktif juga membuat pembaca merasa tulisannya bergerak maju, dan orang-orang ditulisan tersebut terasa melakukan kegiatan.

4. Speaker attribution
Speakter attribution berarti frase yang menandakan siapa yang berbicara dalam kalimat langsung. Misalnya “kata Edgar”, atau “kata gue”, atau “kata Nyokap”. Biasanya dalam mengedit gue akan membuat dialog menjadi lebih enak divisualkan dengan mengganti/mencampurkan speaker attribution dengan sebuah kegiatan.

Misalnya:

“Gar, di buku Marmut Merah Jambu ada cerita tentang kamu ya!” seru gue.
“Sudah cukup, Bang! Aku udah gak mau lagi ditulis di buku Abang,” kata Edgar.
“Tapi Gar, kalo abang kasih sepuluh ribu perak mau?” tanya gue.
“Mau, Bang! Mau!” kata Edgar.

Gue edit menjadi lebih visual dan tidak membosankan menjadi:

“Gar, di buku Marmut Merah Jambu ada cerita tentang kamu ya!” seru gue.
“Cukup, Bang!” Edgar menggelengkan kepalanya. “Aku udah gak mau lagi ditulis di buku Abang!”
Gue mengeluarkan dompet, “Tapi, Gar… Kalo abang kasih sepuluh ribu perak mau?”
“MAU BANG! MAU!”
Harga diri Edgar ternyata lebih murah daripada gue kira.

4. Cek typo
Selalu cek dan re-check tulisan kamu sudah bebas kesalahan ketik. Tidak ada yang lebih nyebelin buat editor penerbit baca selain naskah yang banyak salah ketik.

5. KISS = Keep It Simple, Stupid!
Gue adalah tipe penulis yang selalu menghindari penggunaan kata yang terlalu berat. Kalau gue nemuin kata seperti ini dalam buku gue: “Dia harus lebih konsisten dalam mengaktualisasikan idenya.” biasanya gue akan ganti menjadi “Dia harus lebih sering mewujudkan idenya.” Kata-kata dalam Bahasa Inggris yang keluar pas lagi nulis draft pertama seperti “gesture” gue pasti rubah menjadi “sikap”. Sebisa mungkin gue menulis dengan istilah yang lebih banyak orang tahu. Semakin simpel, semakin baik. Menulis bukan untuk memberitahu kamu pintar dan ngerti banyak kata-kata aneh, tapi untuk mengkomunikasikan cerita kamu secara efektif kepada pembaca.

6. Struktur dulu, baru komedi
Karena gue adalah penulis komedi, sewaktu menulis gue berusaha untuk tertawa pada jokes gue. Kalau gue ketawa, berarti jokesnya berhasil, paling enggak buat gue. Kalau lagi editing, gue emang jarang ketawa sama jokes yang gue buat sebelumnya (karena udah tahu apa jokesnya apa). Tapi, biasanya gue akan selalu mencari celah untuk memasukkan komedi ke dalam tulisan gue sembari gue mengedit.

Buat kamu yang mau menulis komedi, jangan takut kalau dalam draft pertama tulisan kamu belum lucu. Komedi akan datang sendirinya kalau struktur tulisan kamu sudah rapih dan benar. Konsentrasi dulu dengan cerita yang mau kamu sampaikan, dan komedi bisa ditambahkan/dieksplorasi pada saat rewriting. Hindari penulisan komedi yang malas seperti memasukkan tebak-tebakan, cerita lucu, ini semua harus dihapus pas lagi ngedit tulisan kamu.

7. Hindari hal-hal klise
Gak tahu dengan penulis lain, tapi gue gak terlalu suka dengan penggunaan istilah yang klise seperti “Dia seperti tong kosong nyaring bunyinya”, atau “Dia cewek terindah yang pernah gue lihat”, atau “Gue cinta sama dia setengah mati”. Istilah klise ini selain sudah terlalu sering digunakan, juga tidak memperkaya tulisan kita sendiri. Setiap kali ngedit, gue mencari istilah-istilah klise ini, membuangnya, dan mencari metafor lain yang belum pernah dipakai sebelumnya.

8. Udah kelar? Edit lagi!
Writing is rewriting. Kalau kamu pikir editan kamu udah bagus, kasih jarak seminggu, lalu baca ulang dan edit lagi. Ulangi sampai kamu merasa tulisan kamu sudah benar-benar bagus. Kecuali kalo kamu ditungguin editor dan naskahnya sudah masuk deadline mau terbit kayak gue. Huehehehhe..

Semoga membantu calon-calon penulis yang juga lagi nulis/ngedit tulisannya.
Newer Posts Older Posts Home



About Me

My photo
Aanisa Rohmi
View my complete profile

Archive

  • ▼  2018 (2)
    • ▼  June (2)
      • Yang Terbaik
      • When I Was Child (Photo)
  • ►  2017 (13)
    • ►  August (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (4)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2016 (21)
    • ►  December (2)
    • ►  November (5)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (5)
    • ►  July (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (3)
    • ►  August (1)
    • ►  July (2)
  • ►  2014 (13)
    • ►  December (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (1)
    • ►  January (6)
  • ►  2013 (9)
    • ►  November (2)
    • ►  July (2)
    • ►  May (1)
    • ►  March (4)
  • ►  2012 (12)
    • ►  July (4)
    • ►  April (5)
    • ►  January (3)
  • ►  2011 (55)
    • ►  December (3)
    • ►  November (3)
    • ►  October (3)
    • ►  August (8)
    • ►  July (6)
    • ►  June (6)
    • ►  May (5)
    • ►  April (5)
    • ►  March (3)
    • ►  February (5)
    • ►  January (8)
  • ►  2010 (27)
    • ►  December (5)
    • ►  November (7)
    • ►  October (4)
    • ►  September (5)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  March (1)
Powered by Blogger.

Copyright © 2009-2020 Aanisa Rohmi. Created By OddThemes